Diagnosis Diabetes

Gejala diabetes biasanya berkembang secara bertahap, kecuali diabetes tipe 1 yang gejalanya dapat muncul secara tiba-tiba. Dikarenakan diabetes seringkali tidak terdiagnosis pada awal kemunculannya, maka orang-orang yang berisiko terkena penyakit ini dianjurkan menjalani pemeriksaan rutin. Di antaranya adalah:

  • Orang yang berusia di atas 45 tahun.
  • Wanita yang pernah mengalami diabetes gestasional saat hamil.
  • Orang yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) di atas 25.
  • Orang yang sudah didiagnosis menderita prediabetes.

Tes gula darah merupakan pemeriksaan yang mutlak akan dilakukan untuk mendiagnosis diabetes tipe 1 atau tipe 2. Hasil pengukuran gula darah akan menunjukkan apakah seseorang menderita diabetes atau tidak. Dokter akan merekomendasikan pasien untuk menjalani tes gula darah pada waktu dan dengan metode tertentu. Metode tes gula darah yang dapat dijalani oleh pasien, antara lain:

Tes gula darah sewaktu

Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa darah pada jam tertentu secara acak. Tes ini tidak memerlukan pasien untuk berpuasa terlebih dahulu. Jika hasil tes gula darah sewaktu menunjukkan kadar gula 200 mg/dL atau lebih, pasien dapat didiagnosis menderita diabetes.

Tes gula darah puasa

Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa darah pada saat pasien berpuasa. Pasien akan diminta berpuasa terlebih dahulu selama 8 jam, kemudian menjalani pengambilan sampel darah untuk diukur kadar gula darahnya. Hasil tes gula darah puasa yang menunjukkan kadar gula darah kurang dari 100 mg/dL menunjukkan kadar gula darah normal. Hasil tes gula darah puasa di antara 100-125 mg/dL menunjukkan pasien menderita prediabetes. Sedangkan hasil tes gula darah puasa 126 mg/dL atau lebih menunjukkan pasien menderita diabetes.

Tes toleransi glukosa

Tes ini dilakukan dengan meminta pasien untuk berpuasa selama semalam terlebih dahulu. Pasien kemudian akan menjalani pengukuran tes gula darah puasa. Setelah tes tersebut dilakukan, pasien akan diminta meminum larutan gula khusus. Kemudian sampel gula darah akan diambil kembali setelah 2 jam minum larutan gula. Hasil tes toleransi glukosa di bawah 140 mg/dL menunjukkan kadar gula darah normal. Hasil tes tes toleransi glukosa dengan kadar gula antara 140-199 mg/dL menunjukkan kondisi prediabetes. Hasil tes toleransi glukosa dengan kadar gula 200 mg/dL atau lebih menunjukkan pasien menderita diabetes.

Tes HbA1C (glycated haemoglobin test)

Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa rata-rata pasien selama 2-3 bulan ke belakang. Tes ini akan mengukur kadar gula darah yang terikat pada hemoglobin, yaitu protein yang berfungsi membawa oksigen dalam darah. Dalam tes HbA1C, pasien tidak perlu menjalani puasa terlebih dahulu. Hasil tes HbA1C di bawah 5,7 % merupakan kondisi normal. Hasil tes HbA1C di antara 5,7-6,4% menunjukkan pasien mengalami kondisi prediabetes. Hasil tes HbA1C di atas 6,5% menunjukkan pasien menderita diabetes.

Hasil dari tes gula darah akan diperiksa oleh dokter dan diinformasikan kepada pasien. Jika pasien didiagnosis menderita diabetes, dokter akan merencanakan langkah-langkah pengobatan yang akan dijalani. Khusus bagi pasien yang dicurigai menderita diabetes tipe 1, dokter akan merekomendasikan tes autoantibodi untuk memastikan apakah pasien memiliki antibodi yang merusak jaringan tubuh, termasuk pankreas.

Pengobatan Diabetes

Pasien diabetes diharuskan untuk mengatur pola makan dengan memperbanyak konsumsi buah, sayur, protein dari biji-bijian, serta makanan rendah kalori dan lemak. Bila perlu, pasien diabetes juga dapat mengganti asupan gula dengan pemanis yang lebih aman untuk penderita diabetes, sorbitol. Pasien diabetes dan keluarganya dapat berkonsultasi dengan dokter atau dokter gizi untuk mengatur pola makan sehari-hari.

Untuk membantu mengubah gula darah menjadi energi dan meningkatkan sensitivitas sel terhadap insulin, pasien diabetes dianjurkan untuk berolahraga secara rutin, setidaknya 10-30 menit tiap hari. Pasien dapat berkonsultasi dengan dokter untuk memilih olahraga dan aktivitas fisik yang sesuai.

Pada diabetes tipe 1, pasien akan membutuhkan terapi insulin untuk mengatur gula darah sehari-hari. Selain itu, beberapa pasien diabetes tipe 2 juga disarankan untuk menjalani terapi insulin untuk mengatur gula darah. Insulin tambahan tersebut akan diberikan melalui suntikan, bukan dalam bentuk obat minum. Dokter akan mengatur jenis dan dosis insulin yang digunakan, serta memberitahu cara menyuntiknya.

Pada kasus diabetes tipe 1 yang berat, dokter dapat merekomendasikan operasi pencangkokan (transplantasi) pankreas untuk mengganti pankreas yang mengalami kerusakan. Pasien diabetes tipe 1 yang berhasil menjalani operasi tersebut tidak lagi memerlukan terapi insulin, namun harus mengonsumsi obat imunosupresif secara rutin.

Pada pasien diabetes tipe 2, dokter akan meresepkan obat-obatan, salah satunya adalah metformin, obat minum yang berfungsi untuk menurunkan produksi glukosa dari hati. Selain itu, obat diabetes lain yang bekerja dengan cara menjaga kadar glukosa dalam darah agar tidak terlalu tinggi setelah pasien makan, juga dapat diberikan.

Pasien diabetes harus mengontrol gula darahnya secara disiplin melalui pola makan sehat agar gula darah tidak mengalami kenaikan hingga di atas normal. Selain mengontrol kadar glukosa, pasien dengan kondisi ini juga akan diaturkan jadwal untuk menjalani tes HbA1C guna memantau kadar gula darah selama 2-3 bulan terakhir.

Komplikasi Diabetes

Sejumlah komplikasi yang dapat muncul akibat diabetes tipe 1 dan 2 adalah:

Diabetes akibat kehamilan dapat menimbulkan komplikasi pada ibu hamil dan bayi. Contoh komplikasi pada ibu hamil adalah preeklamsia. Sedangkan contoh komplikasi yang dapat muncul pada bayi adalah:

  • Kelebihan berat badan saat lahir.
  • Kelahiran prematur.
  • Gula darah rendah (hipoglikemia).
  • Keguguran.
  • Penyakit kuning.
  • Meningkatnya risiko menderita diabetes tipe 2 pada saat bayi sudah menjadi dewasa.

Cara Mencegah Diabetes yang Bisa Dilakukan Mulai Hari Ini

Penyakit diabetes melitus ditandai oleh naiknya kadar gula di dalam darah. Penyebabnya bisa berkaitan dengan faktor keturunan hingga obesitas. Pencegahan diabetes tipe 1 sulit dilakukan karena berhubungan dengan faktor genetik. Sementara, diabetes tipe 2 yang umumnya bermula dari gaya hidup tidak sehat masih bisa dicegah. Cara untuk mencegah diabetes ini adalah dengan fokus menjaga kadar gula darah tetap normal.

Ungkapan “mencegah lebih baik daripada mengobati” memang benar adanya. Pasalnya, diabetes adalah penyakit yang membutuhkan perawatan seumur hidup. Maka dari itu, penting untuk melakukan langkah pencegahan diabetes mulai dari sekarang.


Naiknya kadar gula dalam darah pada diabetes tipe 2 berawal dari kondisi resistensi insulin. Kondisi ini menyebabkan hormon insulin tidak dapat digunakan dengan optimal oleh sel-sel tubuh.

Padahal insulin berfungsi membantu sel-sel tubuh menyerap gula darah (glukosa) untuk selanjutnya diubah menjadi energi.

Namun, sekitar 9 dari 10 kasus diabetes tipe 2 dapat dihindari dengan pencegahan sederhana yang meliputi perubahan gaya hidup.

Dengan menjalani pola hidup yang lebih sehat, sensitivitas sel-sel tubuh terhadap insulin dapat meningkat sehingga mencegah risiko terjadinya resistensi insulin.

Berikut ini adalah cara perubahan gaya hidup yang bisa dilakukan untuk mencegah diabetes:

  1. Menjaga berat badan ideal

berat badan naik saat haid

Memiliki berat badan ideal adalah salah satu cara mencegah diabetes di kemudian hari. Pasalnya, obesitas (kelebihan berat badan) menjadi salah satu faktor penyebab utama dari diabetes.

Obesitas mengganggu kerja metabolisme yang akhirnya membuat sel-sel dalam tubuh tidak dapat merespons insulin dengan baik. Tubuh Anda jadi kurang atau sama sekali tidak sensitif terhadap insulin. Akibatnya, resistensi insulin yang berujung pada diabetes.

Hasil uji klinis yang dilakukan oleh National Institutes of Health (NIH) pun menyarankan hal ini sebagai tindakan pencegahan diabetes. Dalam laporannya, NIH mengatakan dengan menurunkan berat badan, mencegah diabetes hingga hingga 58 persen.

Untuk memantau berat badan ideal, Anda bisa mencari tahu Indeks Massa Tubuh (IMT) Anda lewat Kalkulator BMI dari Hello Sehat.

  1. Makan makanan bergizi seimbang
    Diet yang baik merupakan cara lain untuk mencegah diabetes. Pencegahan ini dapat membantu Anda mengendalikan berat badan tetap ideal sehingga risiko diabetes akan menurun.

Selama ini kebanyakan orang cenderung terbiasa makan makanan cepat saji, berlemak, dan bergula tinggi. Nah, untuk mencegah diabetes, Anda perlu mengatur kembali pilihan makanan ini.

Untuk mencegah diabetes, pastikan piring makan Anda selalu mengandung nutrisi lengkap dan seimbang, yaitu karbohidrat, protein, serat, lemak baik, serta vitamin dan mineral.

Anda perlu menghindari beberapa jenis makanan sekaligus meningkatkan asupan makanan tertentu. Berikut daftarnya:

Makanan yang harus dihindari

Makanan tinggi lemak jenuh, seperti susu sapi berlemak, keju, es krim, sosis, nugget, kue, dan gorengan.
Makanan dan minuman kemasan.
Makanan tinggi natrium, seperti garam, bumbu masak instan, dan mi instan.
Makanan dan minuman tinggi karbohidrat sederhana, seperti permen, kue kering, minuman ringan, jajanan manis (martabak).
Makanan yang baik bagi kesehatan

Karbohidrat kompleks, seperti nasi merah, buah, sayur, dan biji-bijian.
Makanan tinggi serat, seperti kacang merah, kacang polong, buah, dan sayur.
Sumber lemak baik, seperti daging ikan (tanpa kulit dan tidak digoreng), alpukat, zaitun, dan kacang almond.
15 Pilihan Makanan dan Minuman untuk Diabetes, Plus Menunya!

  1. Memperhatikan asupan karbohidrat dan gula
    Glukosa yang memengaruhi kadar gula darah merupakan hasil pemecahan dari karbohidrat. Sebagai cara mencegah diabetes, Anda bisa memilih sumber karbohidrat kompleks, seperti nasi merah.

Karbohidrat yang baik untuk menjaga gula darah memiliki indeks glikemik rendah karena lebih kaya serat. Dengan begitu, karbohidrat lebih lama dipecah menjadi glukosa.

Anda juga perlu memperhatikan asupan gula setiap harinya. Asupan gula harian sering berlebih karena konsumsi gula tambahan yang dicampurkan ke dalam makanan dan minuman.

Gula yang dimaksud termasuk pemanis buatan, gula cair atau gula kristal, serta gula alami dalam madu, buah yang dijadikan jus, dan konsentrat buah.

Konsumsi makanan tinggi gula secara berlebihan akan memicu masalah metabolisme, mengganggu proses produksi insulin serta memicu kegemukan atau obesitas.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, batas asupan gula yang ditambahkan dalam makanan dan minuman adalah maksimal 50 gram atau setara dengan 4 sendok makan.

  1. Menjaga porsi makan

mengurangi porsi makan untuk pencegahan diabetes

Langkah selanjutnya untuk mencegah diabetes adalah menakar porsi makan sehari-hari. Apalagi jika Anda terbiasa makan dalam porsi besar.

Makan dengan porsi berlebih membuat Anda mengonsumsi lebih banyak kalori. Ini bisa meningkatkan berat badan dan risiko diabetes.

Menggunakan piring yang lebih kecil bisa menjadi salah satu cara menjaga porsi makan dalam rangka mencegah diabetes. Makan dengan piring kecil membuat Anda secara tidak sadar jadi harus mengurangi porsi makan lebih sedikit dari biasanya.

Idealnya memang lebih baik makan sedikit-sedikit tapi sering ketimbang harus makan dalam jumlah banyak sekaligus.

  1. Perbanyak aktivitas fisik
    Gaya hidup mager alias malas gerak ikut menyumbang kenaikan kadar gula darah secara perlahan.

Sebuah penelitian dalam jurnal Pediatric Academic Societies melaporkan orang dewasa yang terbiasa nonton TV lebih dari 3 jam setiap hari berisiko tinggi mengalami kematian dini karena penyakit kronis, termasuk diabetes.

Oleh sebab itu, biasakanlah diri untuk lebih aktif bergerak dan hindari melakukan suatu kegiatan yang menyebabkan Anda duduk atau berbaring terlalu lama.

Aktivitas fisik dapat meningkatkan metabolisme tubuh. Hal ini dapat mendorong proses penyimpanan gula pada jaringan otot dan meningkatkan respons tubuh terhadap insulin.

Langkah pencegahan diabetes yang bisa dilakukan sehari-hari agar tubuh bergerak lebih aktif, antara lain banyak berjalan kaki, naik tangga, berkebun, dan membersihkan rumah.

  1. Rutin olahraga

Aktivitas fisik, termasuk olahraga yang menurunkan gula darah, yang dilakukan secara rutin dapat dijadikan sebagai cara ampuh untuk mencegah diabetes.

Olahraga dapat membantu membakar kalori untuk menghasilkan energi dan menyimpan glukosa ke otot sebagai cadangan energi. Dengan begitu, gula tidak menumpuk di dalam darah.

Olahraga juga membantu tubuh Anda menjadi lebih sensitif terhadapp insulin. Ini tentu menghindarkan Anda dari risiko resistensi insulin.

Sebagai langkah pencegahan diabetes, luangkanlah waktu minimal 30 menit setiap harinya untuk berolahraga.

  1. Berhenti merokok
    Berhenti merokok juga dapat membantu Anda mencegah diabetes. Faktanya, diabetes tipe 2 adalah jenis diabetes yang paling banyak dialami oleh perokok.

Dalam studi ulasan pada Journal of the American Medical Association menganalisis beberapa penelitian besar mengenai rokok dan diabetes.

Orang-orang perokok aktif memiliki risiko diabetes 44% lebih tinggi daripada yang tidak merokok. Risiko tersebut meningkat sebanyak 61% jika Anda merokok lebih 20 batang per hari.

Jika Anda perokok aktif, tidak ada cara yang lebih ampuh untuk mencegah diabetes selain berhenti merokok. Meski sulit, Anda bisa memulainya sedikit demi sedikit.

Benarkah Merokok Dapat Menyebabkan Diabetes?

  1. Mengurangi konsumsi makanan manis

menghindari makan manis pencegahan diabetes

Membatasi konsumsi makanan manis bisa menjadi cara jitu mencegah diabetes. Makan manis terlalu banyak bisa menyebabkan kenaikan berat badan.

Bagi Anda yang menyukai makanan manis, membatasi porsinya adalah tindak pencegahan diabetes yang paling baik meski mungkin tidak mudah.

Keinginan makanan manis biasanya timbul saat Anda sedang stres atau bad mood. Dengan mengonsumsi makanan manis, kebanyakan orang berasumsi suasana hati akan jadi lebih baik dan stres berkurang.

Namun, makan makanan manis saat sedang stres dapat membuat Anda lebih mudah ketagihan. Alhasil, Anda malah terlalu banyak mengonsumsinya.

Jadi, cara mencegah diabetes untuk pencinta makanan manis bisa dilakukan dengan mengelola stres dengan baik. Ketimbang mengonsumsi makanan manis, lakukan kegiatan bermanfaat yang mengurangi stres seperti membaca buku, olahraga, atau ngobrol dengan sahabat.

  1. Banyak minum air putih

minum air putih menghilangkan batu ginjal

Mencegah diabetes bisa Anda lakukan dengan mengurangi konsumsi minuman manis, seperti soda, minuman energi, dan jus buah kemasan). Nah, daripada minum yang manis-manis, baiknya minum air putih saja.

Cara mencegah diabetes ini dapat meningkatkan kemampuan sel-sel tubuh merespon insulin dengan baik.

Supaya Anda terbiasa mengonsumsi air putih untuk mencegah diabetes, mulailah dengan membawa botol minum sendiri ke mana pun Anda pergi. Selain itu, sediakan juga air minum di meja kerja atau di kamar tidur Anda.

  1. Jangan melewatkan jadwal makan
    Mencegah diabetes bisa dilakukan dengan mengurangi kebiasaan makan banyak. Namun, bukan berarti Anda boleh melewatkan jadwal makan.

Melewatkan jadwal makan tidak membantu mencegah diabetes. Malah, ini bisa membuat Anda kalap untuk makan lebih banyak. Pasalnya, Anda telanjur menahan rasa lapar sehingga nafsu makan jadi lebih besar.

  1. Konsumsi suplemen mineral
    Cara lainnya untuk mencegah diabetes adalah dengan memperbanyak konsumsi suplemen mineral, seperti kromium dan magnesium.

Kedua mineral ini diketahui dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Kromium berperan dalam proses metabolisme lemak dan karbohidrat pada tubuh. Sementara itu, magnesium merupakan mineral yang berperan sebagai reseptor jaringan dalam proses penyerapan glukosa.

Tindak pencegahan diabetes sangat penting dilakukan sedini mungkin mengingat penyakit ini dapat menyerang siapa saja dan tidak bisa disembuhkan.

Gejala Diabetes

Diabetes tipe 1 dapat berkembang dengan cepat dalam beberapa minggu, bahkan beberapa hari saja. Sedangkan pada diabetes tipe 2, banyak penderitanya yang tidak menyadari bahwa mereka telah menderita diabetes selama bertahun-tahun, karena gejalanya cenderung tidak spesifik. Beberapa ciri-ciri diabetes tipe 1 dan tipe 2 meliputi:

  • Sering merasa haus.
  • Sering buang air kecil, terutama di malam hari.
  • Sering merasa sangat lapar.
  • Turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas.
  • Berkurangnya massa otot.
  • Terdapat keton dalam urine. Keton adalah produk sisa dari pemecahan otot dan lemak akibat tubuh tidak dapat menggunakan gula sebagai sumber energi.
  • Lemas.
  • Pandangan kabur.
  • Luka yang sulit sembuh.
  • Sering mengalami infeksi, misalnya pada gusi, kulit, vagina, atau saluran kemih.

Beberapa gejala lain juga bisa menjadi ciri-ciri bahwa seseorang mengalami diabetes, antara lain:

  • Mulut kering.
  • Rasa terbakar, kaku, dan nyeri pada kaki.
  • Gatal-gatal.
  • Disfungsi ereksi atau impotensi.
  • Mudah tersinggung.
  • Mengalami hipoglikemia reaktif, yaitu hipoglikemia yang terjadi beberapa jam setelah makan akibat produksi insulin yang berlebihan.
  • Munculnya bercak-bercak hitam di sekitar leher, ketiak, dan selangkangan, (akantosis nigrikans) sebagai tanda terjadinya resistensi insulin.

Beberapa orang dapat mengalami kondisi prediabetes, yaitu kondisi ketika glukosa dalam darah di atas normal, namun tidak cukup tinggi untuk didiagnosis sebagai diabetes. Seseorang yang menderita prediabetes dapat menderita diabetes tipe 2 jika tidak ditangani dengan baik.

Faktor risiko diabetes

Seseorang akan lebih mudah mengalami diabetes tipe 1 jika memiliki faktor-faktor risiko, seperti:

  • Memiliki keluarga dengan riwayat diabetes tipe 1.
  • Menderita infeksi virus.
  • Orang berkulit putih diduga lebih mudah mengalami diabetes tipe 1 dibandingkan ras lain.
  • Bepergian ke daerah yang jauh dari khatulistiwa (ekuator).
  • Diabetes tipe 1 banyak terjadi pada usia 4-7 tahun dan 10-14 tahun, walaupun diabetes tipe 1 dapat muncul pada usia berapapun.

Sedangkan pada kasus diabetes tipe 2, seseorang akan lebih mudah mengalami kondisi ini jika memiliki faktor-faktor risiko, seperti:

  • Kelebihan berat badan.
  • Memiliki keluarga dengan riwayat diabetes tipe 2.
  • Kurang aktif. Aktivitas fisik membantu mengontrol berat badan, membakar glukosa sebagai energi, dan membuat sel tubuh lebih sensitif terhadap insulin. Kurang aktif beraktivitas fisik menyebabkan seseorang lebih mudah terkena diabetes tipe 2.
  • Usia. Risiko terjadinya diabetes tipe 2 akan meningkat seiring bertambahnya usia.
  • Menderita tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Memiliki kadar kolesterol dan trigliserida abnormal. Seseorang yang memiliki kadar kolesterol baik atau HDL (high-density lipoportein) yang rendah dan kadar trigliserida yang tinggi lebih berisiko mengalami diabetes tipe 2.

Khusus pada wanita, ibu hamil yang menderita diabetes gestasional dapat lebih mudah mengalami diabetes tipe 2. Selain itu, wanita yang memiliki riwayat penyakit polycystic ovarian syndrome (PCOS) juga lebih mudah mengalami diabetes tipe 2.

Manajemen Diabetes Mellitus

Tujuan utama dari manajemen diabetes mellitus yaitu mencapai level kadar glukosa normal (euglikemia) tanpa hipoglikemia dan tanpa mengganggu aktivitas pasien. Menurut Smeltzer dan Bare (2008) penatalaksanaan DM terbagi menjadi lima manajemen yaitu diet atau manajemen nutrisi, latihan atau exercise, pemantauan atau monitoring terhadap glukosa dan keton, terapi farmakologis dan pendidikan atau edukasi. 19 a. Diet atau Manajemen Nutrisi Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari penatalaksanaan diabetes. Penatalaksanaan nutrisi pada diabetes diarahkan untuk mencapai tujuan yaitu memberikan semua unsur makanan essensial (misalnya vitamin dan mineral), mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai, memenuhi kebutuhan energi, mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara-cara yang aman dan praktis, menurunkan kadar lemak darah jika meningkat. Prinsip dalam perencanaan makanan pada pasien DM harus memperhatikan pertimbangan seperti kebiasaan tiap individu, jumlah kalori, disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur, stress akut dan kegiatan jasmani (Smeltzer & Bare, 2008). Diet dengan kalori sangat rendah, pada umumnya tidak efektif untuk mencapai penurunan berat badan jangka lama, dalam hal ini perlu ditekankan bahwa tujuan diet adalah pengendalian glukosa dan lipid (Waspadji, 2009). Selanjutnya perubahan disesuaikan dengan pola makan pasien. Standar yang dianjurkan untuk komposisi makanan : karbohidrat (KH) 60-70%, protein 10-15%, lemak 20-25% (Sukardji, 2009 dalam Soegondo, Soewondo & Subekti, 2007). b. Latihan Jasmani/Olahraga Latihan jasmani atau olahraga sangat penting dalam penatalaksanaan diabetes karena efeknya dapat menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi faktor risiko kardiovaskuler. Latihan akan menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki pemakaian insulin. Latihan juga akan mengubah kadar lemak darah yaitu meningkatkan kadar HDL kolesterol dan menurunkan kadar kolesterol total serta trigliserida. Manfaat olah raga bagi pasien DM yaitu meningkatkan kontrol gula darah, menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler (jika dilakukan minimal 30 menit, 3-5 kali/minggu sampai HR mencapai 220- umur/menit), menurunkan berat badan, menguatkan tulang dan otot, mengurangi komplikasi dan menimbulkan kegembiraan (Smeltzer & Bare, 2008). Sebelum melakukan olah raga, pasien DM yang mengikuti latihan 20 yang panjang harus memeriksa kadar glukosa darahnya sebelum, selama dan sesudah periode latihan tersebut. Pasien DM harus memakan camilan setiap ½-1 jam yang mengandung karbohidrat jika diperlukan untuk mempertahankan glukosa darah (Ilyas, 2009). Jenis olah raga yang dianjurkan pada pasien DM yaitu olahraga yang bersifat rekresional maupun profesional seperti berjalan kaki, bersepeda, berenang, yoga dan senam kaki (Smeltzer et al., 2010). c. Pemantauan atau Monitoring terhadap glukosa dan keton Pemantauan glukosa dan keton oleh penyandang diabetes mellitus merupakan hal yang penting dilakukan untuk mencegah dari keadaan hipoglikemia dan hiperglikemia sehingga meminimalkan komplikasi. Pemantauan yang dilakukan oleh penyandang diabetes mellitus secara langsung juga bermanfaat untuk mengevaluasi regimen atau pengobatan yang selama ini diperoleh untuk menormalkan kadar glukosa dan keton (Smeltzer & Bare, 2008). d. Terapi Farmakologis Intervensi farmokologis ditambahkan jika sasaran kadar glukosa darah belum tercapai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani. Intervensi farmakologis meliputi : Obat Anti Hipoglikemik Oral (OHO) dan insulin (Lemone, Burke, Bauldoff, 2015). Tujuan terpai insulin adalah menjaga kadar gula darah normal atau mendekati normal. Pada diabetes mellitus tipe 2 akan membutuhkan insulin apabila terapi jenis lain tidak dapat mencapai target pengendalian kadar glukosa darah dan keadaan stress berat seperti pada infeksi berat, tindakan pembedahan, infark miokard akut atau stroke (Soegondo, 2009). Pada diabetes tipe 2, insulin mungkin diperlukan sebagai terapi jangka panjang untuk mengendalikan kadar glukosa darah jika diet dan obat OHO tidak berhasil mengontrolnya (Smeltzer & Bare, 2010). e. Edukasi Edukasi yang diberikan pada pasien DM pada dasarnya adalah supaya pasien mampu meningkatkan pengetahuan terkait penyakit yang dideritanya sehingga mampu mengendalikan penyakitnya dan mengontrol gula darah 21 dalam keadaan mendekati normal dan dapat mencegah komplikasi. Edukasi yang dapat diberikan pada penderita diabetes mellitus yaitu pemantauan glukosa mandiri, perawatan kaki, ketaatan penggunaan obat-obatan, berhenti merokok, meningkatkan aktifitas fisik, dan mengurangi asupan kalori dan diet tinggi lemak (Ndraha, 2014). Salah satu ketrampilan yang dapat diberikan bagi penderita diabetes mellitus adalah dengan pemberian pendidikan kesehatan mengenai perawatan kaki. Menurut Indian Health Diabetes Best Practice (2011) perawatan kaki adalah perilaku yang dilakukan secara mandiri atau oleh tenaga kesehatan yang meliputi menjaga kegiatan setiap hari, memotong kuku kaki dengan benar, memilih alas kaki yang baik, dan pengelolaan cedera awal pada kaki termasuk kesehatan secara umum dan gawat darurat pada kaki. Perawatan kaki dapat dilakukan oleh pasien dan keluarga secara mandiri dirumah. Apabila pasien tidak bisa melaksanakan perawatan kaki secara mandiri misalnya pada kondisi tertentu (stroke) yang membutuhkan bantuan maka kelurga dapat membantu dalam perawatan kaki. Tenaga kesehatan berkewajiban memberikan edukasi bagi pasien dan keluarga untuk melakukan perawatan kaki secara mandiri dirumah.

Menurut WHO (2012) aktifitas mandiri dapat dilakukan oleh seseorang mulai dari usia 18-64 tahun. Penderita DM harus menjaga kaki mereka dengan baik oleh karena terjadinya kerusakan saraf pada ujung kaki pasien (Mahfud, 2012). Perawatan kaki yang buruk bagi pasien diabetes mellitus akan mengakibatkan masalah kesehatan yang serius diantaranya adalah amputasi kaki. American Diabetes Association (2012) merekomendasikan pemeriksaan kaki harian oleh pasien diabetes mellitus dan pemeriksaan tahunan oleh tenaga kesehatan, tindakan awal ini mampu mencegah ataupun mengurangi sebesar 50% dari seluruh kejadian amputasi yang disebabkan oleh penyakit diabetes mellitus. Menurut Smeltzer dan Bare (2008), terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perawatan kaki pada pasien diabetes mellitus, yaitu :

1. Usia 22 Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan dan praktek yang diperolehnya semakin membaik (Desalu et al., 2011). Menurut penelitian Jordan (2011) wanita yang berusia <65 tahun lebih rajin untuk membersihkan kaki dibandingkan wanita yang berusia >65 tahun karena membutuhkan dukungan atau support system dalam melakukan perawatan kaki.

2. Jenis kelamin Penelitian Hasnain dan Sheikh (2009), mengatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan pengetahuan dan praktek tentang perawatan kaki, dimana perempuan lebih rendah pengetahuan tentang perawatan kaki dibandingkan laki-laki. Namun dalam melaksanakan perawatan kaki perempuan lebih baik dibandingkan laki-laki, pernyataan ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Salmani dan Hosseini (2010) menyatakan bahwa wanita lebih baik dalam melakukan perawatan kaki dibandingkan laki-laki.

3. Tingkat Pendidikan Pasien diabetes mellitus yang memiliki tingkat pendidikan tinggi cenderung lebih terampil dalam melakukan perawatan kaki dibandingkan dengan pasien diabetes mellitus yang tidak berpendidikan (Salmani dan Hosseini, 2010).

4. Komplikasi Kaki Diabetes Mellitus Komplikasi kaki diabetes mellitus yang berhubungan dengan perawatan kaki seperti ketidakmampuan merasakan sensasi pada kaki, efek merokok pada sirkulasi dan tidak dapat merasakan kaki sendiri (Mahfud, 2012).

5. Pengetahuan dan Edukasi Yang Pernah Di Dapat Oleh Pasien Kurangnya pengetahuan pasien tentang perawatan kaki menjadi salah satu hambatan bagi pasien dalam melaksanakan perawatan kaki (Khamseh, Vatankah dan Baradaran, 2007). Selain itu penelitian Ekore et al. (2010), menunjukkan bahwa kesadaran untuk melalukakn perawatan kaki pada klien diabetes mellitus sangat kurang dan kurangnya pendidikan atau penyuluhan 23 dari penyedia layanan kesehatan. Beberapa cara yang dapat dilakukan oleh penderita DM dalam merawat kakinya sehingga mencegah terj

Komplikasi Diabetes Mellitus

  1. Komplikasi Akut
    Komplikasi akut terdiri dari hiperglikemia, diabetik ketoasidosis (DKA), dan
    hiperglikemik hiperosmolar (HHS).
    a. Hiperglikemia
    Menurut International Society for Pediatrics and Adolescent Diabetes (2007),
    hiperglikemia adalah suatu keadaan kadar gula darah sewaktu ≥ 11,1 mmol/L
    (200 mg/dL) ditambah dengan gejala diabetes atau kadar gula darah puasa
    (tidak mendapatkan masukan kalori setidaknya dalam 8 jam sebelumnya) ≥
    7,0 mmol/L (126 mg/dL). Masalah utama akibat hiperglikemia pada
    penyandang DM adalah DKA dan HHS, dua masalah lain adalah fenomena
    fajar dan fenomena somogyi. Fenomena fajar adalah kenaikan glukosa darah
    antara jam 4 pagi dan jam 8 pagi yang bukan merupakan respons terhadap
    hipoglikemia. Penyebab pastinya tidak diketahui namun bisa dipastikan
    dikarenakan oleh peningkatan hormon pertumbuhan pada malam hari.
    Fenomena somogyi adalah kombinasi hipoglikemia selama malam hari
    dengan pantulan kenaikan glukosa darah di pagi hari terhadap kadar
    hiperglikemia (Corwin, 2009).
    b. Diabetik Ketoasidosis (DKA)
    Diabetik Ketoasidosis (DKA) adalah keadaan dekompensasi kekacauan
    metabolik yang ditandai dengan oleh trias DKA yaitu hiperglikemia, asidosis
    dan ketosis yang merupakan salah satu komplikasi akut metabolik diabetes
    mellitus yang paling serius dan mengancam nyawa (Masharani, 2010).
    Keberhasilan penatalaksanaan DKA membutuhkan koreksi dehidrasi,
    hiperglikemia, asidosis dan kelainan elektrolit, identifikasi faktor presipitasi
    komorbid dan yang terpenting adalah pemantauan kondisi pasien terus
    menerus (Yehia, Epps, Golden, 2008).
    c. Hiperglikemik Hiperosmolar (HHS)
    HHS ditandai dengan osmolaritas plasma 340 mOsm/L atau lebih (kisaran
    normal adalah 280-300 msOsm/L), naiknya kadar glukosa darah dengan cepat
    (lebih dari 600 mg/dl dan sering kali 1000-2000 mf/dl), dan perubahan
    tingkat kesadaran yang berat. Faktor pemicu HHS yang paling umum adalah
    infeksi. Manifestasi gangguan ini dapat muncul dari 24 jam hingga 2 minggu.
    Manifestasi dimulai dengan hiperglikemia yang menyebabkan haluaran urine
    sehingga menyebabkan plasma berkurang dan laju GFR menurun. Akibatnya
    glukosa ditahan dan air menjadi hilang, glukosa dan natrium akan menumpuk
    di darah dan meningkatkan osmolaritas serum yang akhirnya menyebabkan
    dehidrasi berat, yang mengurangi air intraseluler di semua jaringan termasuk
    otak (Soewondo, Pradana, 2009).
  2. Komplikasi Kronik
    Komplikasi kronis terdiri atas komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular.
    Komplikasi makrovaskular diantaranya adalah penyakit pada kardiovaskular,
    penyakit arteri koroner, penyakit serebrovaskular, hipertensi, dan penyakit
    vaskuler perifer dan infeksi. Sedangkan komplikasi mikrovaskular
    diantaranya adalah retinopati, nefropati, ulkus kaki, neuropati sensorik dan
    neuropati otonom yang akan menimbulkan berbagai perubahan pada kulit dan
    otot (Rochman, 2006).
    a. Perubahan pada Sistem Kardiovaskular
    Makrosirkulasi (pembuluh darah besar) pada penyandang DM mengalami
    perubahan akibat aterosklerosis, trombosit, sel darah merah, dan faktor
    pembekuan yang tidak normal serta adanya perubahan dinding arteri. Faktor
    risiko lain yang menimbulkan perkembangan penyakit makrovaskular pada
    DM adalah hipertensi, hiperlipidimia, merokok, dan kegemukan. Perubahan
    mikrosirkulasi pada penyandang DM melibatkan kelainan struktur di
    membran basalis pembuluh darah kecil dan kapiler. Efek perubahan pada
    mikrosirkulasi memengaruhi semua jaringan tubuh tetapi paling utama
    dijumpai pada mata dan ginjal (Smeltzer & Bare, 2008).
    b. Penyakit Arteri Koroner
    Penyakit arteri koroner adalah suatu penyakit akibat terjadinya sumbatan pada
    arteri koroner. Penyakit arteri koroner merupakan faktor risiko utama
    terjadinya infark miokard pasien DM, khususnya DM tipe 2 yang usia nya
    sudah paruh baya hingga lansia. Penyandang DM yang mengalami infark
    miokard akan berisiko mengalami gagal jantung kongestif sebagai komplikasi
    infark (AHA, 2015).
    c. Hipertensi
    Hipertensi merupakan komplikasi umum pada DM yang menyerang sekitar
    75% penyandang DM dan merupakan faktor risiko utama pada penyakit
    kardiovaskular dan komplikasi mikrovaskular seperti retinopati dan nefropati.
    Hubungannya dengan DM tipe 2 sangatlah kompleks, hipertensi dapat
    membuat sel tidak sensitif terhadap insulin (resisten insulin) (Mihardja,
    2009). Padahal insulin berperan meningkatkan ambilan glukosa di banyak sel
    dan dengan cara ini juga mengatur metabolisme karbohidrat, sehingga jika
    terjadi resistensi insulin oleh sel, maka kadar gula di dalam darah juga dapat
    mengalami gangguan (Guyton, 2008).
    d. Stroke (Cedera Serebrovaskular)
    Penyandang DM khususnya lansia dengan DM Tipe 2, dua hingga empat kali
    lebih sering mengalami stroke (CDC, 2014). Pasien dengan diabetes mellitus
    biasanya akan mengalami viskositas darah atau terjadi kekentalan pada darah
    sehingga memicu terjadinya trombosis yang akhirnya akan menyebabkan
    terjadinya sumbatan pada pembuluh darah besar (makrovaskuler) dan
    pembuluh darah kecil (mikrovaskuler). Pada pembuluh darah besar akan
    menyebabkan aliran darah ke jantung, serebral dan ekstremitas terganggu.
    Ketika terjadi gangguan pada aliran darah ke serebral maka akan terjadi
    stroke (Price & Wilson, 2006).
    e. Penyakit Vaskular Perifer
    Kerusakan sirkulasi vaskular perifer oleh karena aterosklerosis menyebabkan
    insufisiensi vaskular perifer dengan klaudikasi (nyeri) intermiten di tungkai
    bawah dan ulkus pada kaki. Sumbatan dan trombosis di pembuluh darah
    besar, dan arteri kecil dan arteriol, serta perubahan fungsi neurologis dan
    infeksi mengakibatkan gangrene (nekrosis atau kematian jaringan). Gangrene
    akibat DM merupakan penyebab terbanyak amputasi non-traumatik di
    tungkai bawah. Pada penyandang DM, gangrene kering paling banyak terjadi,
    yang dimanifestasikan dengan jaringan yang dingin, kering, mengerut, dan
    berwarna hitam di jari kaki. Gangrene biasanya dimulai dari ibu jari kaki dan
    bergerak ke arah proksimal kaki (Smeltzer & Bare, 2008).
    f. Retinopati Diabetik
    Retinopati diabetik adalah istilah untuk retina yang terjadi pada penyandang
    DM. Struktur kapiler retina mengalami perubahan aliran darah, yang
    menyebabkan iskemia retina dan kerusakan sawar retina-darah. Retinopati
    diabetik merupakan penyebab terbanyak kebutaan pada orang yang berusia
    antara 20 dan 74 tahun (CDC, 2014).
    g. Nefropati Diabetik
    Nefropati diabetik adalah penyakit ginjal yang ditandai dengan adanya
    albumin dalam urine, hipertensi, edema, dan insufisiensi ginjal progresif.
    Nefropati terjadi pada 30%-40% penyandang DM tipe 1 dan 15-20% dengan
    tipe 2 (Aminoff, 2009).
    h. Perubahan pada Saraf Perifer dan Otonom
    Neuropati perifer dan viseral adalah penyakit pada saraf perifer dan saraf
    otonom. Pada penyandang DM, penyakit ini seringkali disebut neuropati
    diabetik. Etiologi neuropati diabetik mencakup penebalan dinding pembuluh
    darah yang memasok saraf, yang menyebabkan penurunan nutrien,
    demielinisasi sel-sel Schwan yang mengelilingi dan menyekat saraf yang
    memperlambat hantaran saraf. Manifestasi yang ditimbulkan tergantung pada
    letak lesi (Alport & Sander, 2012).
    i. Neuropati Viseral
    Neuropati viseral atau sering disebut neuropati otonom menyebabkan
    berbagai manifestasi bergantung pada area SSO yang terkena. Neuropati ini
    dapat mencakup gangguan berkeringat, fungsi pupil tidak normal, gangguan
    kardiovaskular, gangguan gastrointestinal, gangguan genitourinari (Bril,
    England, Franklin et al, 2011).
    j. Perubahan Mood
    Penyandang DM baik tipe 1 maupun tipe 2 menjalani ketegangan kronik
    hidup dengan perawatan diri kompleks dan berisiko tinggi mengalami depresi
    dan distres emosional spesifik karena DM. Depresi mayor dan gejala depresi
    mempengaruhi 20% penyandang DM yang membuatnya menjadi dua kali
    lebih sering terjadi di kalangan penyandang DM dibanding populasi umum
    (Brian dkk, 2010).
    k. Peningkatan Kerentanan Terhadap Infeksi
    Penyandang DM mengalami peningkatan risiko terjadinya infeksi. Hubungan
    pasti atara infeksi dan DM tidak jelas, tetapi banyak gangguan yang terjadi
    akibat komplikasi diabetik memicu seseorang mengalami infeksi. Kerusakan
    vaskular dan neurologis, hiperglikemia, dan perubahan fungsi neutrofil
    dipercaya menjadi penyebabnya (Matfin & Porth, 2009).
    l. Penyakit Periodontal
    Meskipun penyakit periodontal tidak terjadi lebih sering pada penyandang
    DM, tetapi dapat memburuk dengan cepat, khususnya jika DM tidak
    terkontrol dengan baik. Dipercayai bahwa penyakit ini disebabkan oleh
    mikroangipati, dengan perubahan pada vaskularisasi gusi. Akibatnya,
    gingivitis (inflamasi gusi) dan periodontitis (inflamasi tulang di bawah gusi)
    terjadi (Longo, Fauci, Kasper, Hauser, Jameson, Loscalzo, 2011).
    m. Komplikasi yang Mengenai Kaki
    Tingginya insidens baik amputasi maupun masalah kaki pada pasien DM
    merupakan akibat angiopati, neuropati, dan infeksi. Penyandang DM berisiko
    tinggi mengalami amputasi di ekstremitas bawah dengan peningkatan risiko
    pada mereka yang sudah menyandang DM lebih dari 10 tahun. Neuropati
    diabetik pada kaki menimbulkan berbagai masalah karena sensasi sentuhan
    dan persepsi nyeri tidak ada, penyandang DM dapat mengalami beberapa tipe
    trauma kaki tanpa menyadarinya. Orang tersebut berisko tinggi mengalami
    trauma di jaringan kaki menyebabkan terjadinya ulkus. Infeksi umumnya
    terjadi pada jaringan yang mengalami trauma atau ulkus (Smeltzer & Bare,
    2008). Meskipun banyak kemungkinan sumber trauma kaki yang
    menyebabkan ulkus kaki diabetik pada penyandang DM seperti pecah-pecah
    dan fisura yang disebabkan oleh kulit kering atau infeksi misalnya kaki atlet,
    lepuh yang disebabkan oleh pemakaian sepatu yang tidak pas, tekanan dari
    stoking atau sepatu, kapalan, kuku kaki tumbuh masuk ke dalam/kesalahan
    dalam memotong kuku kaki dan trauma langsung (terpotong, memar, atau
    luka bakar). Penting untuk mengingat bahwa penyandang neuropati diabetik
    yang mengalami kehilangan persepsi nyeri mungkin tidak menyadari bahwa
    telah terjadi cedera (Suyono, 2009).

Patofisiologi Diabetes Mellitus

Diabetes mellitus adalah kumpulan penyakit metabolik yang ditandai dengan
hiperglikemia akibat kerusakan sekresi insulin, kinerja insulin, atau keduanya.
Diabetes Tipe 1 adalah hasil dari interaksi genetik, lingkungan, dan faktor
imunologi yang pada akhirnya mengarah terhadap kerusakan sel beta
pankreas dan insulin defisiensi. Masa sel beta kemudian menurun dan sekresi
insulin menjadi semakin terganggu, meskipun toleransi glukosa normal
dipertahankan (Powers, 2010). DM Tipe 1 terjadi karena ketidakmampuan
untuk menghasilkan insulin karena sel-sel pankreas telah dihancurkan oleh
proses autoimun. Glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan
dalam hati meskipun tetap dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia
posprandial (sesudah makan). Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup
tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring
keluar akibatnya glukosa tersebut dieksresikan dalam urin (glukosuria).
Eksresi ini akan disertai oleh pengeluaran cairan dan elekrolit yang
berlebihan, keadaan ini disebut diuresis osmotik. Pasien mengalami
peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsi) (ADA,
2012).


Pada diabetes Tipe 2 terdapat 2 masalah utama yang berhubungan dengan
insulin, yaitu: resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya
insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Sebagai
akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut, terjadi suatu rangkaian
reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam sel. Resistensi insulin pada
diabetes tipe 2 disertai dengan penurunan reaksi intrasel, dengan demikian
insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh
jaringan. Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya
glukosa dalam darah harus terdapat peningkatan insulin yang disekresikan.
Pada penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi
insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat
yang normal atau sedikit meningkat. Namun, jika sel-sel tidak mampu
mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin maka kadar glukosa akan
meningkat dan terjadi diabetes tipe 2. Meskipun terjadi gangguan sekresi
insulin yang merupakan ciri khas diabetes tipe 2, namun terdapat jumlah
insulin yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi badan
keton. Oleh karena itu, ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada diabetes tipe 2.
Meskipun demikian, diabetes tipe 2 yang tidak terkontrol dapat menimbulkan
masalah akut lainnya yang dinamakan sindrom hiperglikemik hiperosmoler
nonketotik. Akibat intoleransi glukosa yang berlangsung lambat dan
progresif, maka awitan diabetes tipe 2 dapat berjalan tanpa terdeteksi,
gejalanya sering bersifat ringan dan dapat mencakup kelelahan, iritabilitas,
poliuria, pilidipsia, luka pada kulit yang tidak sembuh-sembuh, infeksi dan
pandangan yang kabur (Smeltzer & Bare, 2008).

Diagnosis Diabetes Mellitus

Menurut Perkeni (2015), Diabetes Mellitus ditegakkan atas dasar
pemeriksaan kadar glukosa darah. Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas
dasar adanya glukosuria. Pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah
pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan darah plasma vena.
Pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan
pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan glukometer. Pemeriksaan glukosa
plasma puasa ≥126mg/dl. Puasa adalah kondisi tidak ada asupan kalori
minimal 8 jam atau pemeriksaan glukosa plasma ≥200mg/dl 2 jam setelah
Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) dengan beban 75 gram atau pemeriksaan
glukosa plasma sewaktu ≥200mg/dl dengan keluhan klasik atau pemeriksaan
GbA1c ≥6,5% dengan menggunakan metode High-Performance Liquid
Chromatography (HPLC) yang terstandarisasi oleh National
Glycohaemoglobin Standarization Program (NGSP).
ADA (2015) menyatakan bahwa diagnosis DM dapat dilakukan dengan
melihat manifestasi berupa gejala DM (poliuria, polidipsia, polifagia,
penurunan berat badan tanpa sebab) ditambah dengan kadar glukosa darah
sewaktu >200 mg/dL, atau kadar glukosa darah puasa >126 mg/dL atau kadar
glukosa darah 2 jam setelah dilakukan test toleransi glukosa oral (75 gram
glukosa yang dilarutkan) makan > 200 mg/dL. Pemeriksaan dilakukan
minimal 2 kali dengan cara yang sama.

Manifestasi Klinik Diabetes Mellitus

Adapun manifestasi klinis dari diabetes mellitus berdasarkan klasifikasinya
yaitu :

  1. Diabetes Mellitus Tipe 1
    Menurut Konsensus Nasional Pengelolaan Diabetes Mellitus Tipe 1 tahun
    2015, sebagian besar penderita DM Tipe 1 mempunyai riwayat perjalanan
    klinis yang akut. Poliuria, polidipsia, nokturia, enuresis, penurunan berat
    badan yang cepat dalam 2-6 minggu sebelum diagnosis ditegakkan, kadangkadang disertai polifagia dan gangguan penglihatan. Manifestasi klinis pada
    diabetes mellitus tipe 1 bergantung pada tingkat kekurangan insulin dan
    gejala yang ditimbulkan bisa ringan hingga berat. Orang dengan DM Tipe 1
    membutuhkan sumber insulin eksogen (eksternal) untuk mempertahankan
    hidup.
    11
  2. Diabetes Mellitus Tipe 2
    Penyandang DM tipe 2 mengalami awitan manifestasi yang lambat dan sering
    kali tidak menyadari penyakit sampai mencari perawatan kesehatan untuk
    beberapa masalah lain. Manifestasi yang biasa muncul yaitu poliuria dan
    polidipsia, polifagia jarang dijumpai dan penurunan berat badan tidak terjadi.
    Manifestasi lain juga akibat hiperglikemia: penglihatan buram, keletihan,
    parastesia, dan infeksi kulit (Lemone, Burke, Bauldoff, 2015)

KLASIFIKASI DIABETES MILITUS

Menurut ADA (2013) klasifikasi diabetes mellitus meliputi empat kelas klinis
yaitu :

  1. Diabetes Mellitus tipe 1
    Hasil dari kehancuran sel beta pankreas, biasanya menyebabkan defisiensi
    insulin yang absolut atau tubuh tidak mampu menghasilkan insulin. Penyebab
    dari diabetes mellitus ini belum diketahui secara pasti. Tanda dan gejala dari
    diabetes mellitus tipe 1 ini adalah poliuria (kencing terus menerus dalam
    jumlah banyak), polidipsia (rasa cepat haus), polipagia (rasa cepat lapar),
    penurunan berat badan secara drastis, mengalami penurunan penglihatan dan
    kelelahan.
  2. Diabetes Mellitus tipe 2
    Hasil dari gangguan sekresi insulin yang progresif yang menjadi latar belakang
    terjadinya resistensi insulin atau ketidakefektifan penggunaan insulin di dalam
    tubuh. Diabetes mellitus tipe 2 merupakan tipe diabetes yang paling banyak
    dialami oleh seseorang di dunia dan paling sering disebabkan oleh karena berat
    badan berlebih dan aktivitas fisik yang kurang. Tanda dan gejala dari diabetes
    mellitus tipe 2 ini hampir sama dengan diabetes mellitus tipe 1, tetapi diabetes
    mellitus tipe 2 dapat didiagnosis setelah beberapa tahun keluhan dirasakan oleh
    pasien dan pada diabetes mellitus komplikasi dapat terjadi. Diagnosis klinis
    diabetes mellitus umumnya akan dipikirkan bila ada keluhan khas berupa
    poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat
    dijelaskan sebabnya. Keluhan lain yang mungkin dikeluhkan pasien adalah
    lemah, kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi ereksi pada pria, serta
    pruritus vulva pada pasien wanita (Purnamasari, 2009).
  3. Diabetes tipe spesifik lain
    Diabetes tipe ini biasanya terjadi karena adanya gangguan genetik pada fungsi
    sel beta, gangguan genetik pada kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas dan
    dipicu oleh obat atau bahan kimia (seperti pengobatan HIV/AIDS atau setelah
    transplantasi organ).
  4. Gestational Diabetes
    Diabetes tipe ini terjadinya peningkatan kadar gula darah atau hiperglikemia
    selama kehamilan dengan nilai kadar glukosa darah normal tetapi dibawah dari
    nilai diagnostik diabetes mellitus pada umumnya. Perempuan dengan diabetes
    mellitus saat kehamilan sangat berisiko mengalami komplikasi selama
    kehamilan. Ibu dengan gestational diabetes memiliki risiko tinggi mengalami
    diabetes mellitus tipe 2 dikemudian hari. Gestational diabetes lebih baik
    10
    didiagnosa dengan pemeriksaan saat prenatal karena lebih akurat dibandingkan
    dengan keluhan langsung yang dirasakan klien (Arisman, 2011).

DIABETES

ASSALAMUALAIKUM

DEFINISI DIABETES

Apa pengertian diabetes menurut WHO?

Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2016, Diabetes mellitus
adalah suatu penyakit kronis dimana organ pankreas tidak memproduksi cukup
insulin atau ketika tubuh tidak efektif dalam menggunakannya. Diabetes
mellitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk
heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat (Price
dan Wilson, 2006). Hiperglikemia atau terjadinya peningkatan kadar gula
darah adalah salah satu efek yang terjadi jika penyakit diabetes tidak terkontrol
dan lambat laun akan mengakibatkan kerusakan diberbagai sistem di dalam
tubuh khususnya saraf dan pembuluh darah. Diabetes mellitus merupakan
penyakit metabolik yang berlangsung lama atau kronis yang ditandai dengan
peningkatan kadar gula darah sebagai akibat dari kelainan insulin, aktivitas
insulin ataupun sekresi insulin yang dapat menimbukan berbagai masalah
serius dan prevalensi dari penyakit diabetes mellitus ini berkembang sangat
cepat (Smeltzer &Bare, 2008). Berdasarkan dari beberapa definisi di atas,
diabetes mellitus adalah suatu kelainan metabolik yang ditandai dengan
peningkatan kadar gula darah yang dapat mengakibatkan kerusakan diberbagai
sistem tubuh manusia.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai