- Komplikasi Akut
Komplikasi akut terdiri dari hiperglikemia, diabetik ketoasidosis (DKA), dan
hiperglikemik hiperosmolar (HHS).
a. Hiperglikemia
Menurut International Society for Pediatrics and Adolescent Diabetes (2007),
hiperglikemia adalah suatu keadaan kadar gula darah sewaktu ≥ 11,1 mmol/L
(200 mg/dL) ditambah dengan gejala diabetes atau kadar gula darah puasa
(tidak mendapatkan masukan kalori setidaknya dalam 8 jam sebelumnya) ≥
7,0 mmol/L (126 mg/dL). Masalah utama akibat hiperglikemia pada
penyandang DM adalah DKA dan HHS, dua masalah lain adalah fenomena
fajar dan fenomena somogyi. Fenomena fajar adalah kenaikan glukosa darah
antara jam 4 pagi dan jam 8 pagi yang bukan merupakan respons terhadap
hipoglikemia. Penyebab pastinya tidak diketahui namun bisa dipastikan
dikarenakan oleh peningkatan hormon pertumbuhan pada malam hari.
Fenomena somogyi adalah kombinasi hipoglikemia selama malam hari
dengan pantulan kenaikan glukosa darah di pagi hari terhadap kadar
hiperglikemia (Corwin, 2009).
b. Diabetik Ketoasidosis (DKA)
Diabetik Ketoasidosis (DKA) adalah keadaan dekompensasi kekacauan
metabolik yang ditandai dengan oleh trias DKA yaitu hiperglikemia, asidosis
dan ketosis yang merupakan salah satu komplikasi akut metabolik diabetes
mellitus yang paling serius dan mengancam nyawa (Masharani, 2010).
Keberhasilan penatalaksanaan DKA membutuhkan koreksi dehidrasi,
hiperglikemia, asidosis dan kelainan elektrolit, identifikasi faktor presipitasi
komorbid dan yang terpenting adalah pemantauan kondisi pasien terus
menerus (Yehia, Epps, Golden, 2008).
c. Hiperglikemik Hiperosmolar (HHS)
HHS ditandai dengan osmolaritas plasma 340 mOsm/L atau lebih (kisaran
normal adalah 280-300 msOsm/L), naiknya kadar glukosa darah dengan cepat
(lebih dari 600 mg/dl dan sering kali 1000-2000 mf/dl), dan perubahan
tingkat kesadaran yang berat. Faktor pemicu HHS yang paling umum adalah
infeksi. Manifestasi gangguan ini dapat muncul dari 24 jam hingga 2 minggu.
Manifestasi dimulai dengan hiperglikemia yang menyebabkan haluaran urine
sehingga menyebabkan plasma berkurang dan laju GFR menurun. Akibatnya
glukosa ditahan dan air menjadi hilang, glukosa dan natrium akan menumpuk
di darah dan meningkatkan osmolaritas serum yang akhirnya menyebabkan
dehidrasi berat, yang mengurangi air intraseluler di semua jaringan termasuk
otak (Soewondo, Pradana, 2009). - Komplikasi Kronik
Komplikasi kronis terdiri atas komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular.
Komplikasi makrovaskular diantaranya adalah penyakit pada kardiovaskular,
penyakit arteri koroner, penyakit serebrovaskular, hipertensi, dan penyakit
vaskuler perifer dan infeksi. Sedangkan komplikasi mikrovaskular
diantaranya adalah retinopati, nefropati, ulkus kaki, neuropati sensorik dan
neuropati otonom yang akan menimbulkan berbagai perubahan pada kulit dan
otot (Rochman, 2006).
a. Perubahan pada Sistem Kardiovaskular
Makrosirkulasi (pembuluh darah besar) pada penyandang DM mengalami
perubahan akibat aterosklerosis, trombosit, sel darah merah, dan faktor
pembekuan yang tidak normal serta adanya perubahan dinding arteri. Faktor
risiko lain yang menimbulkan perkembangan penyakit makrovaskular pada
DM adalah hipertensi, hiperlipidimia, merokok, dan kegemukan. Perubahan
mikrosirkulasi pada penyandang DM melibatkan kelainan struktur di
membran basalis pembuluh darah kecil dan kapiler. Efek perubahan pada
mikrosirkulasi memengaruhi semua jaringan tubuh tetapi paling utama
dijumpai pada mata dan ginjal (Smeltzer & Bare, 2008).
b. Penyakit Arteri Koroner
Penyakit arteri koroner adalah suatu penyakit akibat terjadinya sumbatan pada
arteri koroner. Penyakit arteri koroner merupakan faktor risiko utama
terjadinya infark miokard pasien DM, khususnya DM tipe 2 yang usia nya
sudah paruh baya hingga lansia. Penyandang DM yang mengalami infark
miokard akan berisiko mengalami gagal jantung kongestif sebagai komplikasi
infark (AHA, 2015).
c. Hipertensi
Hipertensi merupakan komplikasi umum pada DM yang menyerang sekitar
75% penyandang DM dan merupakan faktor risiko utama pada penyakit
kardiovaskular dan komplikasi mikrovaskular seperti retinopati dan nefropati.
Hubungannya dengan DM tipe 2 sangatlah kompleks, hipertensi dapat
membuat sel tidak sensitif terhadap insulin (resisten insulin) (Mihardja,
2009). Padahal insulin berperan meningkatkan ambilan glukosa di banyak sel
dan dengan cara ini juga mengatur metabolisme karbohidrat, sehingga jika
terjadi resistensi insulin oleh sel, maka kadar gula di dalam darah juga dapat
mengalami gangguan (Guyton, 2008).
d. Stroke (Cedera Serebrovaskular)
Penyandang DM khususnya lansia dengan DM Tipe 2, dua hingga empat kali
lebih sering mengalami stroke (CDC, 2014). Pasien dengan diabetes mellitus
biasanya akan mengalami viskositas darah atau terjadi kekentalan pada darah
sehingga memicu terjadinya trombosis yang akhirnya akan menyebabkan
terjadinya sumbatan pada pembuluh darah besar (makrovaskuler) dan
pembuluh darah kecil (mikrovaskuler). Pada pembuluh darah besar akan
menyebabkan aliran darah ke jantung, serebral dan ekstremitas terganggu.
Ketika terjadi gangguan pada aliran darah ke serebral maka akan terjadi
stroke (Price & Wilson, 2006).
e. Penyakit Vaskular Perifer
Kerusakan sirkulasi vaskular perifer oleh karena aterosklerosis menyebabkan
insufisiensi vaskular perifer dengan klaudikasi (nyeri) intermiten di tungkai
bawah dan ulkus pada kaki. Sumbatan dan trombosis di pembuluh darah
besar, dan arteri kecil dan arteriol, serta perubahan fungsi neurologis dan
infeksi mengakibatkan gangrene (nekrosis atau kematian jaringan). Gangrene
akibat DM merupakan penyebab terbanyak amputasi non-traumatik di
tungkai bawah. Pada penyandang DM, gangrene kering paling banyak terjadi,
yang dimanifestasikan dengan jaringan yang dingin, kering, mengerut, dan
berwarna hitam di jari kaki. Gangrene biasanya dimulai dari ibu jari kaki dan
bergerak ke arah proksimal kaki (Smeltzer & Bare, 2008).
f. Retinopati Diabetik
Retinopati diabetik adalah istilah untuk retina yang terjadi pada penyandang
DM. Struktur kapiler retina mengalami perubahan aliran darah, yang
menyebabkan iskemia retina dan kerusakan sawar retina-darah. Retinopati
diabetik merupakan penyebab terbanyak kebutaan pada orang yang berusia
antara 20 dan 74 tahun (CDC, 2014).
g. Nefropati Diabetik
Nefropati diabetik adalah penyakit ginjal yang ditandai dengan adanya
albumin dalam urine, hipertensi, edema, dan insufisiensi ginjal progresif.
Nefropati terjadi pada 30%-40% penyandang DM tipe 1 dan 15-20% dengan
tipe 2 (Aminoff, 2009).
h. Perubahan pada Saraf Perifer dan Otonom
Neuropati perifer dan viseral adalah penyakit pada saraf perifer dan saraf
otonom. Pada penyandang DM, penyakit ini seringkali disebut neuropati
diabetik. Etiologi neuropati diabetik mencakup penebalan dinding pembuluh
darah yang memasok saraf, yang menyebabkan penurunan nutrien,
demielinisasi sel-sel Schwan yang mengelilingi dan menyekat saraf yang
memperlambat hantaran saraf. Manifestasi yang ditimbulkan tergantung pada
letak lesi (Alport & Sander, 2012).
i. Neuropati Viseral
Neuropati viseral atau sering disebut neuropati otonom menyebabkan
berbagai manifestasi bergantung pada area SSO yang terkena. Neuropati ini
dapat mencakup gangguan berkeringat, fungsi pupil tidak normal, gangguan
kardiovaskular, gangguan gastrointestinal, gangguan genitourinari (Bril,
England, Franklin et al, 2011).
j. Perubahan Mood
Penyandang DM baik tipe 1 maupun tipe 2 menjalani ketegangan kronik
hidup dengan perawatan diri kompleks dan berisiko tinggi mengalami depresi
dan distres emosional spesifik karena DM. Depresi mayor dan gejala depresi
mempengaruhi 20% penyandang DM yang membuatnya menjadi dua kali
lebih sering terjadi di kalangan penyandang DM dibanding populasi umum
(Brian dkk, 2010).
k. Peningkatan Kerentanan Terhadap Infeksi
Penyandang DM mengalami peningkatan risiko terjadinya infeksi. Hubungan
pasti atara infeksi dan DM tidak jelas, tetapi banyak gangguan yang terjadi
akibat komplikasi diabetik memicu seseorang mengalami infeksi. Kerusakan
vaskular dan neurologis, hiperglikemia, dan perubahan fungsi neutrofil
dipercaya menjadi penyebabnya (Matfin & Porth, 2009).
l. Penyakit Periodontal
Meskipun penyakit periodontal tidak terjadi lebih sering pada penyandang
DM, tetapi dapat memburuk dengan cepat, khususnya jika DM tidak
terkontrol dengan baik. Dipercayai bahwa penyakit ini disebabkan oleh
mikroangipati, dengan perubahan pada vaskularisasi gusi. Akibatnya,
gingivitis (inflamasi gusi) dan periodontitis (inflamasi tulang di bawah gusi)
terjadi (Longo, Fauci, Kasper, Hauser, Jameson, Loscalzo, 2011).
m. Komplikasi yang Mengenai Kaki
Tingginya insidens baik amputasi maupun masalah kaki pada pasien DM
merupakan akibat angiopati, neuropati, dan infeksi. Penyandang DM berisiko
tinggi mengalami amputasi di ekstremitas bawah dengan peningkatan risiko
pada mereka yang sudah menyandang DM lebih dari 10 tahun. Neuropati
diabetik pada kaki menimbulkan berbagai masalah karena sensasi sentuhan
dan persepsi nyeri tidak ada, penyandang DM dapat mengalami beberapa tipe
trauma kaki tanpa menyadarinya. Orang tersebut berisko tinggi mengalami
trauma di jaringan kaki menyebabkan terjadinya ulkus. Infeksi umumnya
terjadi pada jaringan yang mengalami trauma atau ulkus (Smeltzer & Bare,
2008). Meskipun banyak kemungkinan sumber trauma kaki yang
menyebabkan ulkus kaki diabetik pada penyandang DM seperti pecah-pecah
dan fisura yang disebabkan oleh kulit kering atau infeksi misalnya kaki atlet,
lepuh yang disebabkan oleh pemakaian sepatu yang tidak pas, tekanan dari
stoking atau sepatu, kapalan, kuku kaki tumbuh masuk ke dalam/kesalahan
dalam memotong kuku kaki dan trauma langsung (terpotong, memar, atau
luka bakar). Penting untuk mengingat bahwa penyandang neuropati diabetik
yang mengalami kehilangan persepsi nyeri mungkin tidak menyadari bahwa
telah terjadi cedera (Suyono, 2009).