Tujuan utama dari manajemen diabetes mellitus yaitu mencapai level kadar glukosa normal (euglikemia) tanpa hipoglikemia dan tanpa mengganggu aktivitas pasien. Menurut Smeltzer dan Bare (2008) penatalaksanaan DM terbagi menjadi lima manajemen yaitu diet atau manajemen nutrisi, latihan atau exercise, pemantauan atau monitoring terhadap glukosa dan keton, terapi farmakologis dan pendidikan atau edukasi. 19 a. Diet atau Manajemen Nutrisi Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari penatalaksanaan diabetes. Penatalaksanaan nutrisi pada diabetes diarahkan untuk mencapai tujuan yaitu memberikan semua unsur makanan essensial (misalnya vitamin dan mineral), mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai, memenuhi kebutuhan energi, mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara-cara yang aman dan praktis, menurunkan kadar lemak darah jika meningkat. Prinsip dalam perencanaan makanan pada pasien DM harus memperhatikan pertimbangan seperti kebiasaan tiap individu, jumlah kalori, disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur, stress akut dan kegiatan jasmani (Smeltzer & Bare, 2008). Diet dengan kalori sangat rendah, pada umumnya tidak efektif untuk mencapai penurunan berat badan jangka lama, dalam hal ini perlu ditekankan bahwa tujuan diet adalah pengendalian glukosa dan lipid (Waspadji, 2009). Selanjutnya perubahan disesuaikan dengan pola makan pasien. Standar yang dianjurkan untuk komposisi makanan : karbohidrat (KH) 60-70%, protein 10-15%, lemak 20-25% (Sukardji, 2009 dalam Soegondo, Soewondo & Subekti, 2007). b. Latihan Jasmani/Olahraga Latihan jasmani atau olahraga sangat penting dalam penatalaksanaan diabetes karena efeknya dapat menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi faktor risiko kardiovaskuler. Latihan akan menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki pemakaian insulin. Latihan juga akan mengubah kadar lemak darah yaitu meningkatkan kadar HDL kolesterol dan menurunkan kadar kolesterol total serta trigliserida. Manfaat olah raga bagi pasien DM yaitu meningkatkan kontrol gula darah, menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler (jika dilakukan minimal 30 menit, 3-5 kali/minggu sampai HR mencapai 220- umur/menit), menurunkan berat badan, menguatkan tulang dan otot, mengurangi komplikasi dan menimbulkan kegembiraan (Smeltzer & Bare, 2008). Sebelum melakukan olah raga, pasien DM yang mengikuti latihan 20 yang panjang harus memeriksa kadar glukosa darahnya sebelum, selama dan sesudah periode latihan tersebut. Pasien DM harus memakan camilan setiap ½-1 jam yang mengandung karbohidrat jika diperlukan untuk mempertahankan glukosa darah (Ilyas, 2009). Jenis olah raga yang dianjurkan pada pasien DM yaitu olahraga yang bersifat rekresional maupun profesional seperti berjalan kaki, bersepeda, berenang, yoga dan senam kaki (Smeltzer et al., 2010). c. Pemantauan atau Monitoring terhadap glukosa dan keton Pemantauan glukosa dan keton oleh penyandang diabetes mellitus merupakan hal yang penting dilakukan untuk mencegah dari keadaan hipoglikemia dan hiperglikemia sehingga meminimalkan komplikasi. Pemantauan yang dilakukan oleh penyandang diabetes mellitus secara langsung juga bermanfaat untuk mengevaluasi regimen atau pengobatan yang selama ini diperoleh untuk menormalkan kadar glukosa dan keton (Smeltzer & Bare, 2008). d. Terapi Farmakologis Intervensi farmokologis ditambahkan jika sasaran kadar glukosa darah belum tercapai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani. Intervensi farmakologis meliputi : Obat Anti Hipoglikemik Oral (OHO) dan insulin (Lemone, Burke, Bauldoff, 2015). Tujuan terpai insulin adalah menjaga kadar gula darah normal atau mendekati normal. Pada diabetes mellitus tipe 2 akan membutuhkan insulin apabila terapi jenis lain tidak dapat mencapai target pengendalian kadar glukosa darah dan keadaan stress berat seperti pada infeksi berat, tindakan pembedahan, infark miokard akut atau stroke (Soegondo, 2009). Pada diabetes tipe 2, insulin mungkin diperlukan sebagai terapi jangka panjang untuk mengendalikan kadar glukosa darah jika diet dan obat OHO tidak berhasil mengontrolnya (Smeltzer & Bare, 2010). e. Edukasi Edukasi yang diberikan pada pasien DM pada dasarnya adalah supaya pasien mampu meningkatkan pengetahuan terkait penyakit yang dideritanya sehingga mampu mengendalikan penyakitnya dan mengontrol gula darah 21 dalam keadaan mendekati normal dan dapat mencegah komplikasi. Edukasi yang dapat diberikan pada penderita diabetes mellitus yaitu pemantauan glukosa mandiri, perawatan kaki, ketaatan penggunaan obat-obatan, berhenti merokok, meningkatkan aktifitas fisik, dan mengurangi asupan kalori dan diet tinggi lemak (Ndraha, 2014). Salah satu ketrampilan yang dapat diberikan bagi penderita diabetes mellitus adalah dengan pemberian pendidikan kesehatan mengenai perawatan kaki. Menurut Indian Health Diabetes Best Practice (2011) perawatan kaki adalah perilaku yang dilakukan secara mandiri atau oleh tenaga kesehatan yang meliputi menjaga kegiatan setiap hari, memotong kuku kaki dengan benar, memilih alas kaki yang baik, dan pengelolaan cedera awal pada kaki termasuk kesehatan secara umum dan gawat darurat pada kaki. Perawatan kaki dapat dilakukan oleh pasien dan keluarga secara mandiri dirumah. Apabila pasien tidak bisa melaksanakan perawatan kaki secara mandiri misalnya pada kondisi tertentu (stroke) yang membutuhkan bantuan maka kelurga dapat membantu dalam perawatan kaki. Tenaga kesehatan berkewajiban memberikan edukasi bagi pasien dan keluarga untuk melakukan perawatan kaki secara mandiri dirumah.
Menurut WHO (2012) aktifitas mandiri dapat dilakukan oleh seseorang mulai dari usia 18-64 tahun. Penderita DM harus menjaga kaki mereka dengan baik oleh karena terjadinya kerusakan saraf pada ujung kaki pasien (Mahfud, 2012). Perawatan kaki yang buruk bagi pasien diabetes mellitus akan mengakibatkan masalah kesehatan yang serius diantaranya adalah amputasi kaki. American Diabetes Association (2012) merekomendasikan pemeriksaan kaki harian oleh pasien diabetes mellitus dan pemeriksaan tahunan oleh tenaga kesehatan, tindakan awal ini mampu mencegah ataupun mengurangi sebesar 50% dari seluruh kejadian amputasi yang disebabkan oleh penyakit diabetes mellitus. Menurut Smeltzer dan Bare (2008), terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perawatan kaki pada pasien diabetes mellitus, yaitu :
1. Usia 22 Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan dan praktek yang diperolehnya semakin membaik (Desalu et al., 2011). Menurut penelitian Jordan (2011) wanita yang berusia <65 tahun lebih rajin untuk membersihkan kaki dibandingkan wanita yang berusia >65 tahun karena membutuhkan dukungan atau support system dalam melakukan perawatan kaki.
2. Jenis kelamin Penelitian Hasnain dan Sheikh (2009), mengatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan pengetahuan dan praktek tentang perawatan kaki, dimana perempuan lebih rendah pengetahuan tentang perawatan kaki dibandingkan laki-laki. Namun dalam melaksanakan perawatan kaki perempuan lebih baik dibandingkan laki-laki, pernyataan ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Salmani dan Hosseini (2010) menyatakan bahwa wanita lebih baik dalam melakukan perawatan kaki dibandingkan laki-laki.
3. Tingkat Pendidikan Pasien diabetes mellitus yang memiliki tingkat pendidikan tinggi cenderung lebih terampil dalam melakukan perawatan kaki dibandingkan dengan pasien diabetes mellitus yang tidak berpendidikan (Salmani dan Hosseini, 2010).
4. Komplikasi Kaki Diabetes Mellitus Komplikasi kaki diabetes mellitus yang berhubungan dengan perawatan kaki seperti ketidakmampuan merasakan sensasi pada kaki, efek merokok pada sirkulasi dan tidak dapat merasakan kaki sendiri (Mahfud, 2012).
5. Pengetahuan dan Edukasi Yang Pernah Di Dapat Oleh Pasien Kurangnya pengetahuan pasien tentang perawatan kaki menjadi salah satu hambatan bagi pasien dalam melaksanakan perawatan kaki (Khamseh, Vatankah dan Baradaran, 2007). Selain itu penelitian Ekore et al. (2010), menunjukkan bahwa kesadaran untuk melalukakn perawatan kaki pada klien diabetes mellitus sangat kurang dan kurangnya pendidikan atau penyuluhan 23 dari penyedia layanan kesehatan. Beberapa cara yang dapat dilakukan oleh penderita DM dalam merawat kakinya sehingga mencegah terj